Saat baru pertama kali memasuki Pramuka di SMK Negeri 11 Semarang, kami masih dianggap sebagai seorang tamu. Otomatis kami belum memiliki bed ambalan yang menjadi kebanggaan bersekolah di SMK ini. Untuk mendapat bed ambalan tersebut, kami harus menempuh rangkaian kegiatan yang dikemas dalam suatu acara bernama Penerimaan Tamu Ambalan.

Kami pikir, sungguh tidak sebanding, acara 2 hari tersebut, dengan pengorbanan yang begitu besar, hanya dibayar dengan sebuah bed yang bisa dipalsukan. Setelah kami lebih dewasa dan matang dalam berpikir (agak matang sih) kami sadari, ternyata bed itu lebih dari sekedar bed. Kami membawa nama yang begitu besar dan tanggungjawab yang besar pula.

Nama yang tertera dalam bed ambalan tersebut yang diakui sebagai nama ambalan di SMK negeri 11 Semarang ialah RA Kartini. Oh, sungguh nama yang tak asing lagi bagi kita.

Ya, RA Kartini (Raden Adjeng Kartini) seperti yang telah kita ketahui lahir di JeparaJawa Tengah21 April 1879 – meninggal di RembangJawa Tengah,17 September 1904 pada umur 25 tahun adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah danKyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Namun, tak cukup sampai disitu, setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Namun versi yang saat ini beredar dan paling sering dibaca (sayangnya kami belum membacanya) adalah buku yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1938, yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru.

Tak hanya itu, banyak penulis dari berbagai suku bangsa bahkan negara juga membukukan surat-surat Kartini, beberapa diantaranya adalah:

  • Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
  • Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
  • Panggil Aku Kartini Saja
  • Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
  • Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903

Sungguh, Kartini adalah wanita yang benar-benar berjasa bagi rakyat Indonesia. Bahkan Beliau dihormati pula oleh bangsa lain. Contohnya, di Belanda terdapat jalan dengan nama Kartinistaat, dan jalan ini bahkan lebih besar daripada jalan-jalan yang mempunyai nama seperti nama para pejuang lainya. Jadi, kita patut berbangga.

Lalu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apa hubunganya antara nama Kartina dan SMK Negeri 11 Semarnag hingga nama Kartini dipilih menjadi nama ambalanya?

Yah, itulah the big why yang harus kami pecahkan. Berbekal rasa ingin tahu yang besar, maka kami berangkat untuk mewawancarai Kak Jin yang notabene kami anggap sebagai sesepuh Pramuka di SMK Negeri 11 Semarang.

Dan menurut beliau, “Nama ambalan ini ditetapkan pada tanggal 8 Juli 1998 bertepatan dengan dilaksanakanya kegiatan Pembantaraan SMT Grafika yang pertama kalinya.” Pencetus nama ambalan ini adalah Kak Sujinarto, S.Pd yang biasa kami panggil Kak Jin, atas dasar musyawarah Pembina.

“Mengapa mengambil nama Kartini? Pada mulanya, SMK Negeri 11 Semarang adalah sekolah yang mempunyai spesifik pembelajaran pada kegiatan kegrafikaan yaitu erat hubunganya dengan kegiatan percetakan dan kejurnalistikan. Dan seorang RA Kartini adalah seorang jurnalis terbukti dari beberapa karyanya yang telah terkenal salah satunya adalah Habis Gelap Terbitlah Terang. Jadi sangat cocok jika kita mengambil nama RA Kartini sebagai nama Ambalan kita”, terang beliau.

Terjawab sudah pertanyaan kami dan mungkin anggota pramuka yang lain mengenai nama ambalan RA Kartini. Dan kami merasa harus menjunjung semangat RA Kartini yang telah menjadi nama ambalan kami. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: